Kisahku yang Inspiratif

Catatan Editor: Tulisan ini merupakan esai dengan tema Kisahku yang Inspiratif terbaik dari seluruh esai bertema sama yang ditulis oleh peserta PK 10. Penilaian dengan indikator tertentu secara tertutup sepenuhnya dilakukan oleh Panitia PK 10. Kami telah mendapatkan izin dari penulis untuk mempublikasikan tulisannya pada blog ini, di mana esai penulis disadur tanpa mengubah tulisan aslinya.

Oleh : Muslihun

Perekonomian keluarga yang memperihatinkan membuat saya harus menuntut ilmu dengan perjuangan dan harus tahan banting menyikapi keadaan dengan keterbatasan ekonomi. Saya akan menceritakan keadaan ekonomi keluarga saya saat itu dimana semua harus disikapi dengan kesabaran. Ibu saya berjualan di warung kecil yang barang-barangnya seperti kelapa dan buah-buahan dibeli dari pasar kecil di desa saya dan barang-barang tersebut dibayar malamnya (kurang lebih setelah maghrib) setelah barang itu laku, namun kadang barang itu tidak laku. Saat Ibu saya tidak dapat membayar lunas, Ibu saya sering dimarahi saat pemilik barang-barang itu menagih uang kepada Ibu saya. Alasan tepatnya adalah jika uang barang yang dibeli Ibu itu dikasihkan ke penjual maka saya tidak ada uang untuk ongkos ke sekolah karena sekolah saya di kota sedangkan saya di desa dan pada saat itu ongkos untuk ke sekolah saya seribu rupiah. Ibu saya pernah memberi ongkos hanya seribu rupiah karena benar-benar tidak ada uang lebih untuk dikasihkan saya yang hanya cukup sekali ongkos saja, ongkos pulang saya pikirkan nanti yang penting saya dapat berangkat sekolah dulu. Saya masuk di MAN Demak sebenarnya masih ada tunggakan biaya awal dan Alhamdulillah dapat dibayar saat saya kelas III mendapat beasiswa golongan ekonomi lemah dan saya berprestasi mewakili sekolah dalam olimpiade fisika (walaupun saya tidak menang).

Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ada sejak saya sekolah di MAN. Saya berjuang belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan nilai yang baik dalam Ujian Nasional sehingga memudahkan saya mendapatkan beasiswa saat di perguruan tinggi. Saat pengumuman kelulusan tiba, Alhamdulillah saya mendapatkan nilai 10 (skala 10) mata pelajaran matematika dan target saya tercapai karena saya menargetkan mendapat nilai 10 pada mata pelajaran matematika. Setelah lulus, keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi semakin besar tapi saya harus menahan keinginan tersebutkarena tidak adanya biaya. Saya memutuskan untuk bekerja dulu di Semarang tepatnya di Karangayu dengan tujuan satu tahun ke depan saya mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri. Saya bekerja sambil membawa buku untuk belajar waktu malam setelah kerja karena saya takut ilmu yang saya dapat akan lupa yang akibatnya dapat tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Ternyata kerja lulusan SMA sederajat itu sangat berat dan uang yang didapat-pun tidak seberapa sehingga tidak dapat menabung untuk persiapan kuliah. Satu tahun berlalu saya mendaftar ke Fisika Universitas Diponegoro Semarang dengan hanya modal uang pendaftaran dan ongkos ke Semarang. Hari pengumuman SPMB pun tiba dan saya senang sungguh luar biasa karena saya dinyatakan keterima, namun kurang lebih setengah menit saya langsung sedih karena ingat nanti uang kuliah dari mana. Hari itu juga setelah membaca pengumuman di koran terminal Demak, saya langsung ke Semarang karena saya mendapatkan alamat kantor beasiswa Etos. Saya nekat menuju ke alamat tersebut walaupun saat itu saya masih belum familier dengan Semarang. Setelah saya menemukan alamat tersebut, saya ketemu orang yang mengkoordinir beasiswa etos di wilayah Semarang dan sekitarnya. Saya menyampaikan keinginan saya dan saya perlu beasiswa untuk kelangsungan pendidikan. Jawaban yang saya terima adalah jurusan Fisika tidak ada dalam daftar jurusan yang diberi beasiswa Etos. Akhirnya saya pulang ke rumah menemui Orang tua dengan kabar gembira dan sedih. Kabar gembira saya diterima di Fisika Undip dan kabar sedihnya mencari dana untuk membayar biaya awal.

Sebelum batas waktu pembayaran, saya ke Undip dengan tujuan meminta keringanan pembayaran. Saat itu saya ketemu perwakilan BEM yang sedang bertugas untuk membantu para calon mahasiswa untuk registrasi ulang. Saya menceritakan keadaan dan keinginan saya untuk kuliah dan akhirnya saya dipertemukan dengan pejabat rektorat yang bertugas untuk memberikan arahan dan menandatangi surat keringanan atau penundaan pembayaran. Saya menceritakan kondisi perekonomian saya dan keinginan saya untuk kuliah. Saat itu Beliau meminta agar Orang tua saya datang untuk mendampingi saya sebagai bukti bahwa saya benar-benar orang yang tidak mampu secara ekonomi. Sehari kemudian saya datang dengan Ibu saya tercinta dan menemui pejabat rektorat tersebut. Setelah berbincang-bincang, akhirnya saya diperbolehkan membayar uang masuk kuliah satu juta rupiah dan kekuranganya dapat dicicil.

Kami sekeluarga memikirkan dapat uang satu juta dari mana, untuk makan saja kami kadang harus hutang. Coba meminjam orang yang di Jepara tidak dapat. Akhirnya kakak saya meminjam uang ke saudara yang ada di Tulung Agung, Jawa Timur. Beliau adalah seorang Alkhafidz dan merupakan keponakan Bapak saya. Akhirnya kami dapat pinjaman dari Beliau.

Saya hanya mendapatkan beasiswa yang hanya cukup untuk membiayai SPP dan PRKP (Praktikum) tiap semester saja. Saya sering dipanggil pihak rektorat dan bahkan nama saya sering terpampang di papan pengumuman dekanat dari daftar mahasiswa yang dipanggil. Disamping mikir kuliah fisika yang berat, mikir uang kekurangan biaya awal masuk kuliah yang belum lunas, saya bekerja sore hari dan bekerja lagi dari jam 22.00 – 06.00 WIB, akibatnya saya sering nagantuk saat kuliah. Walaupun begitu, saya tetap semangat demi cita-cita dan melepaskan Orang tua saya dari belenggu kemiskinan. Sedikitpun saya tidak iri kepada teman-teman saya yang mempunyai uang jajan lebih, menurut saya do’a restu Orang tua lebih berharga dari itu. Setelah dinyatakan lulus oleh tim penguji skripsi, saya memikirkan dana wisuda. Saya mempunyai ide untuk menulis buku diferensialyang sangat berguna untuk mengerjakan teori Ralat pada praktikum Fisika Dasar. Uang hasil penjualan buku sekala universitas tersebut dapat saya gunakan untuk biaya wisuda. Saat saya wisuda, saya sangat bahagia tapi bukan karena acara wisudanya dan foto-foto, melainkan kedatangan Orang tua saya dan saya mau meneteskan air mata ketika Beliau datang karena ini adalah keberhasilan perjuangan Beliau membekali anaknya ilmu untuk menata masa depan walaupun beliau tidak lulus Sekolah Rakyat (SR).Setelah saya bekerja, Alhamdulillah saya dapat merenovasi rumah Orang tua saya yang mulanya pagar yang bolong sekarang sudah menjadi tembok.

Hampir tiap ajaran baru dari saya masih kuliah, saya mengantarkan siswa-siswi yang mempunyai keterbatasan ekonomi tapi mempunyai tekad yang kuat untuk kuliah. Saya menemui Pembantu Rektor II dan bahkan Rektor Undip untuk meminta penundaan pembayaran atau pembayaran awal dicicil. Saya memotivasi mereka dan orang tua/keluarga mereka agar melanjutkan ke bangku kuliah untuk masa depan mereka, kampus PTN menyediakan banyak beasiswadan bekerja part time untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka berhak merasakan pendidikan tinggi, namun yang membedakan hanya keterbatasan ekonomi. Alhamdulillah diantara mereka sekarang dapat menikmati bangku kuliah dengan beasiswa dan kerja partime.

Organisasi yang saya ikuti saat itu adalah Himpunan Mahasiswa Fisika (HMF) sebagai seksi infokom yaitu memberikan informasi di himpunan dan Diponegoro Physic Competitions (DPC) sebagai seksi materi, yaitu membuat soal untuk olimpiade fisika tingkat SMA se-Jateng. Disamping itu saya menjadi koordinator praktikum fisika dasar untuk mahasiswa Teknik Industri dan Perikanan Undip.

Advertisements

Pemimpin Indonesia Emas 2045

Catatan Editor: Tulisan ini merupakan esai dengan tema Pemimpin Indonesia Emas 2045 terbaik dari seluruh esai bertema sama yang ditulis oleh peserta PK 10. Penilaian dengan indikator tertentu secara tertutup sepenuhnya dilakukan oleh Panitia PK 10. Kami telah mendapatkan izin dari penulis untuk mempublikasikan tulisannya pada blog ini, di mana esai penulis disadur tanpa mengubah tulisan aslinya.

Oleh: Shirin Zahro

Dalam kurun waktu hanya tiga puluh satu tahun yang akan datang, Indonesia akan merayakan kemerdekaannya yang ke-seratus. Kondisi Indonesia di usia yang ke seratus sepenuhnya berada di tangan rakyatnya, terutama generasi penerus yang akan menjadi pemimpin.Untuk menjadi sebuah negara yang maju, diperlukan perencanaan serta konsistensi. Kejayaan menuju Indonesia Emas 2045 perlu dipersiapkan dari sekarang. Peluang dan tantangan Indonesia di masa depan tidak sama dengan peluang di masa kini. Untuk itu, diperlukan pemikiran dan perencanaan, ingin menjadi negara seperti apa Indonesia di tahun 2045, yang kemudian visi ini menjadi dasar pembentuk kebijakan dan strategi pembangunan hingga tahun 2045.

Peluang dan Tantangan Indonesia di tahun 2045
Indonesia memiliki berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam perjalanan menuju Indonesia 2045. Salah satu peluang datang dari dalam negeri, yaitu kondisi demografi. Diperkirakan hingga tahun 2045, populasi penduduk Indonesia akan didominasi oleh penduduk usia produktif. Penduduk usia produktif ini merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja, berusia 15 hingga 64 tahun. Penduduk dalam kelompok usia ini merupakan penduduk yang aktif dalam kegiatan ekonomi, menggerakkan roda pembangunan, dan berada di posisi pemimpin. Bila Indonesia mampu mempersiapkan dan membangun kualitas penduduk usia produktif ini, maka saat kita mengalami yang disebut demography boom, saat dimana usia penduduk produktif lebih banyak daripada usia penduduk anak-anak dan orangtua, maka Indonesia dapat mengalami pembangunan yang berkualitas.

Kondisi Demografi Indonesia - World Bank 2005

Karakter Pemimpin yang Dibutuhkan Untuk Mencapai Indonesia Emas 2045
Kondisi demografi Indonesia yang akan didominasi oleh penduduk berusia produktif menandakan pentingnya pembangunan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan SDM menjadi kunci untuk dapat menjawab tantangan-tantangan lain yang akan dihadapi.
Indonesia perlu mempersiapkan generasi muda yang berwawasan global, tidak tertutup terhadap perkembangan dunia, serta tidak takut bersaing dengan pemimpin-pemimpin negara lain. Generasi pemimpin di masa mendatang harus dapat mengambil peluang dari perkembangan dunia yang semakin lama semakin maju. Di masa mendatang, negara-negara dunia akan semakin terkoneksi dengan globalisasi. Teknologi akan semakin berkembang. Pola kepemimpinan negara-negara dunia pun berubah. Indonesia perlu mempersiapkan pemimpin masa depan yang mampu bersaing dengan pemimpin-pemimpin negara lain.

Tantangan Pemimpin Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Selain globalisasi, tantangan yang akan dihadapi pemimpin di masa depan adalah bagaimana menciptakan pembangunan yang berkesinambungan. Pemimpin Indonesia di masa depan tidak dapat lagi hanya memikirkan permbangunan Indonesia dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun, namun harus mempertimbangkan bagaimana Indonesia hingga lima puluh tahun atau seratus tahun mendatang.
Tantangan lain yang dihadapi adalah membangun karakter yang kuat meski kurangnya keteladanan. Kondisi Indonesia saat ini dimana lebih banyak pemberitaan buruk daripada
pemberitaan baik di media, serta pemberitaan mengenai perilaku-perilaku buruk dari tokoh-tokoh masyarakat, menjadi sangat menyedihkan ketika disadari bahwa hal ini menjadi contoh yang buruk bagi generasi muda. Tantangan besar adalah bagaimana generasi pemimpin masa depan dapat bangkit dan menciptakan pemimpin yang berperilaku baik, serta menghapus stereotip lama dari tokoh-tokoh di masa sebelumnya.

Langkah-Langkah Strategis dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memformulasikan tujuan Indonesia tahun 2045. Indonesia sudah saatnya menjadi negara yang maju dan terus melakukan pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu, kunci utama yang perlu dibangun adalah kualitas SDM Indonesia.
Agar dapat menjadi negara maju, Indonesia perlu memiliki ahli di berbagai bidang. Hingga saat ini, Indonesia sangat kekurangan ahli di bidang science dan teknologi. Diperlukan banyak sekolah di bidang teknik dan science, terutama vokasi yang menghasilkan teknisi-teknisi handal, untuk memenuhi kebutuhan SDM di bidang ini. Indonesia perlu mengirimkan generasi mudanya untuk belajar di berbagai universitas terbaik dunia untuk memenuhi kebutuhan SDM di berbagai bidang. Setelah itu, berikan insentif bagi putra-putra terbaik untuk kembali ke Indonesia dan berkarya di dalam negeri. SDM yang berkualitas akan mampu berkreativitas untuk membangun berbagai hal lain yang diperlukan seperti infrastruktur, pengelolaan Sumber Daya Alam, dan mendorong pemerataan pembangunan.
Dengan tujuan yang sama yaitu menjadi negara maju melalui pembangunan SDM, berbagai kebijakan di sektor lain diarahkan untuk mendukung kebijakan ini. Seluruh kebijakan menuju satu visi Indonesia 2045.

Peran Generasi Muda Saat ini Untuk Indonesia Emas 2045
Generasi muda saat ini akan menjadi pemimpin di masa Indonesia Emas 2045. Generasi muda saat ini harus mempersiapkan bekal untuk menjadi pemimpin. Sudah saatnya bagi generasi muda Indonesia untuk berkarya, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di kancah Internasional, membuka jaringan yang dibentuk saat ini untuk dapat diambil manfaatnya di
masa depan. Generasi muda saat ini sebenarnya adalah tumpuan bagi kemajuan Indonesia di masa yang akan datang.

Peran Saya dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Salah satu cita-cita saya adalah menjadi pembuat kebijakan bagi pembangunan Indonesia di masa depan. Berlandaskan pada cita-cita tersebut, saya saat ini memutuskan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi di salah satu universitas terbaik dunia di bidang ekonomi. Saat ini pula adalah saat yang saya manfaatkan untuk membuka jaringan saya dengan para akademis dan praktisi dari berbagai penjuru dunia.
Saya bertekad dengan modal ilmu dan kemampuan yang akan saya dapatkan di usia muda, saya akan menjadi salah satu pembuat kebijakan terbaik bagi Indonesia di masa depan.

Catatan Sekilas Hari Keduabelas Program Kepemimpinan

Akhirnya tibalah kami di hari terakhir PK angkatan 10. Praktis acara hari ini hanya diisi oleh upacara penutupan yang dibarengi dengan ramah tamah dan pelepasan dari direksi LPDP.

IMG_20140405_083314

Upacara penutupan dibuat dengan sangat meriah, di mana peserta PK 10 menampilkan apresiasi budaya yang menurut panitia sangat berkesan sehingga direksi meminta daftar nama pemain dalam apresiasi budaya. Ada pun isi dari apresiasi budaya tersebut adalah ‘medley’ tarian dari berbagai daerah di Indonesia seperti Betawi, Dayak, Aceh, Bali, serta tak ketinggalan dari Nusa Tenggara Timur – di mana belasan peserta beasiswa afirmasi berasal. Selain itu ada juga ‘medley’ lagu daerah yang dibawakan oleh paduan suara khusus dari PK 10.

IMG_20140405_103853

Tentu saja, hari ini menjadi hari yang indah sekaligus sedih bagi kami semua peserta PK 10. Inilah akhir dari PK 10, namun awal dari langkah kami semua mengemban misi negara. Misi belajar untuk membangun Indonesia yang lebih baik di kemudian hari.

Catatan Sekilas Hari Kesebelas Program Kepemimpinan

Hari kesebelas atau sehari sebelum PK berakhir merupakan hari yang juga relatif tenang. Pagi harinya selama setengah hari, kami mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran pendidikan luar negeri yang khusus diadakan untuk kami peserta PK. Konon pameran pendidikan di PK ini baru diadakan untuk pertama kalinya bagi kami PK angkatan 10. Setidaknya ada 20 universitas luar negeri yang hadir dan memberikan konsultasi gratis, mulai dari John Hopkins University dari Amerika, Manchester University dari United Kingdom, University of Twente dari Belanda, University of Melbourne dari Australia, hingga University of Otago dari New Zealand.

Setelah makan siang, kami diberi waktu untuk mengerjakan video mengenai SCC yang telah dilaksanakan sehari sebelumnya, serta video mengenai visualisasi mimpi masing-masing. Sore harinya video-video tersebut ditonton bersama dan dilombakan.

Malam harinya yang merupakan malam terakhir PK kami kembali kami isi dengan latihan apresiasi budaya yang akan ditampilkan di hadapan direksi pada pagi harinya. Sungguh malam yang sangat indah di mana kebersamaan kami selama sebelas hari ini disatukan oleh apresiasi budaya yang ditampilkan oleh sebagian besar peserta PK.

Catatan Sekilas Hari Kesepuluh Program Kepemimpinan

Hari kesepuluh ini merupakan hari yang menyenangkan karena kegiatan kami tidak sepadat sembilan hari sebelumnya. Kami juga bertemu dengan dua tokoh internasional kebanggaan Indonesia.

Pagi hari di hari kesepuluh ini, kami diberi materi oleh K. H. Salahuddin Wahid alias Gus Solah, sang pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng. Materi yang beliau sampaikan menarik, yaitu mengenai Transformasi Generasi Muda untuk Indonesia yang Lebih Baik. Salah satu yang beliau bahas adalah mengenai bonus demografi Indonesia yang bisa menjadi berkah atau bencana. Kutipan yang patut dicatat dari beliau adalah, “ilmu itu satu hal, menerapkan ilmu itu hal lain.”

Selanjutnya pada sesi setelah makan siang, kami bertemu dengan Dr. Handry Satriago yang merupakan CEO General Electric Indonesia. Beliau ini merupakan sosok yang sangat inspiratif. Sejak usia 17 tahun beliau mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya akibat kanker yang diderita. Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat beliau untuk sekolah hingga tingkat doktoral dan juga berkarier di perusahaan multinasional hingga mencapai puncak. Pendidikan beliau ditempuh semuanya di Indonesia dan beliau merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi CEO GE Indonesia setelah sebelum-sebelumnya dipegang oleh orang asing. Materi Pengambgunan Wawasan Global dan SDM Indonesia yang Kompetitif pum dibawakan secara menarik oleh beliau. Lima kompetensi yang menurut beliau harus kita miliki adalah:
1. Questioning
2. Associating
3. Observing
4. Experimenting
5. Networking

Sesi sore hari merupakan sesi yang agak santai. Kami menonton film Men of Honor bersama dan diminta untuk mengambil pelajaran yang bisa dipetik dari film tersebut. Malam harinya kami pun berlatih untuk melakukan pertunjukan apresiasi budaya yang akan ditampilkan pada hari penutupan.

Catatan Sekilas Hari Kesembilan Program Kepemimpinan

Pagi hari kesembilan diisi dengan ceramah Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan dari Bunda Marwah Daud Ibrahim. Kami diberikan pengetahuan dan beberapa simulasi untuk merencanakan masa depan yang kami inginkan.

Siangnya kami bertolak ke Kawasan Industri Pulogadung. Lebih tepatnya kami berkunjung ke Martina Berto untuk mendapatkan pengetahuan mengenai dunia usaha yang sangat erat kautannya dengan identitas Indonesia. Seperti kita tahu, Martina Berto merupakan grup usaha yang menaungi kosmetik bermerek Martha Tilaar di mana kosmetik tersebut sangat kental dengan ciri tradisionalmya.

Kami sangat beruntung bisa bertemu langsung dengan pendirinya, yaitu Dr. (HC) Martha Tilaar. Beliau sempat menceritakan kisah perjalanan usaha kebanggaan Indonesia tersebut. Suatu inspirasi yang menggugah semangat bahwa dunia usaha pun dapat menjadi salah satu instrumen untuk menunjukkan identitas kebangsaan. Selain bertemu dengan Dr. (HC) Martha Tilaar, kami juga dijelaskan akan seluk beluk bisnis Martina Berto oleh Presiden Direktur dari grup teraebut, yaitu Bryan Tilaar. Acara pun dilanjutkan dengan tour berkeliling pabrik dan museum serta diakhiri dengan pertunjukkan demonstrasi perawatan eksklusif.

image

Malam hari pun kami lanjutkan dengan sesi What Why and How to LPDP bersama lima direksi LPDP. Kelima direksi LPDP hadir lengkap di wisma tempat PK dilaksanakan setelah mereka selesai acara peluncuran Beasiswa Presiden Republik Indonesia di Istana Merdeka. Pemaparan dan diskusi pun berlangsung hangat hingga larut malam.

Catatan Sekilas Hari Kedelapan Program Kepemimpinan

Pada hari kedelapan ini, kami semua mendapat tantangan untuk melakukan Social Creative Contribution (SCC). Kami diminta untuk mencari panti asuhan di sekitar wisma kami di Depok untuk melakukan kegiatan sosial di sana.

Ada pun kriteria untuk kegiatan sosial ini adalah harus berdampak sangat luas, berkualitas sangat bagus, dan berjangka waktu sangat panjang. Seluruh peserta juga diminta untuk membuat rencana detail kegiatan pada malam sebelumnya sebelum melaksanakan misi.

Setelah selesai dengan SCC, kami diminta untuk membuat laporan pada siang harinya. Malam hari kami habiskan untuk menerima materi Mekanisme Pencairan Keuangan BPI yang tentu saja sangat hangat. Di sini pertanyaan mengenai keuangan kami dibahas secara mendetail.